Monday, May 30, 2011

Mungkin Ingin Kenalan

Desember 2010, saya berangkat dari Jakarta menuju Kupang-NTT menggunakan pesawat salah satu maskapai penerbangan swasta. Aktivitas Bandara Soetta telah padat dengan penumpang dan pengantar/ penjemput, termasuk para pekerja dan crew.

Suara merdu wanita di seberang call-operator, terdengar mengumumkan nomor penerbangan pesawat yang akan saya tumpangi. Setelah memastikan bagasi dan tiket, saya pun check-in. Antrian panjang penumpang jelang akhir tahun, mendesak langkah untuk mengisi bangku kosong di ruang tunggu sesudah pass boarding.

Senyum pramugari di pintu masuk pesawat menghilangkan kantuk yang sempat menyerang di ruang tunggu. Dengan sigap tanpa lupa ramah, membantu saya mencari seat dan memasukkan bagasi ke dalam cabin yang sudah disiapkan. Sebuah kursi yang nyaman di pojok dekat jendela, menjanjikan perjalanan 2 jam 50 menit yang menyenangkan.

Fasten seat-belt, tegakkan sandaran kursi, dll. dalam SOP keselamatan penerbangan dimumkan oleh crew. Seorang pramugari melakukan re-check jumlah penumpang dan yang lainnya memastikan bahwa semua penumpang telah melakukan apa yang diminta.

Saat asyik dengan lamunan tentang kota kelahiran, tiba-tiba saya terusik dengan pertengkaran kecil antara seorang penumpang pria, separuh baya, dengan salat satu pramugari. Kasat mata bagi saya, yang sangat terbiasa meng-cover kejadian di sekeliling secara paralel.

Berawal dari penumpang sederet dan di seberang seat saya, yang "terlihat" belum mengenakan seat-belt dan mematikan telepon genggamnya. Sesuai dengan job-desk, para crew kabin penumpang, melakukan pengulangan dalam pemeriksaan, agar dinyatakan siap bagi pesawat untuk diberangkatkan. Penumpang tersebut masih juga terlihat belum mematuhinya.

Dengan sopan dan tegas, pramugari menegurnya. Respon penumpang bersangkutan, terkesan jelas pada mimik arogannya saat mengangkat baju yang menutupi seat-belt yang ternyata telah terpasang dan menunjukkan telepon genggamnya yang sudah dimatikan. "Anda kira saya baru pertama kali naik pesawat terbang?", tidak keluar dari mulut, tapi dari setiap jengkal tubuhnya mengatakan demikian. Semu merah, menghinggapi lembutnya pipi pramugari itu. Tetap berjalan anggun, tinggalkan kabin penumpang menuju pantry.

Saya teringat kejadian 5 menit yang lalu, ketika penumpang yang ditegur tadi terlihat begitu siap dengan momen untuk "permalukan dan tunjukkan arogansi". Setelah memasang seat-belt, bajunya yang semula rapi tertata dalam lingkar celana, dikeluarkan untuk menutupi seat-belt, dan memberi kesan bahwa belum terpasang dengan baik. Begitu juga dengan memainkan telepon genggamnya, seperti sedang menelepon atau mengirim pesan singkat.

Sepanjang perjalanan, saya coba menganalisa motif  berpotensi negatif, yang tersisa dari kejadian tadi. Ketika akhirnya, pengumuman 30 menit lagi pesawat akan mendarat di Bandara El Tari - Kupang membangunkan saya. Hilang pula sisa tidur saya, saat wajah manis pramugari-yang terlibat pertengkaran-menawarkan amusement, memberikan kesimpulan yang sempat ditenggelamkan mimpi.

"Bapak, Anda bersalah karena menyembunyikan kebenaran atau hanya ingin kenalan? Bayangkan jika ada 5 (lima) orang penumpang seperti Anda".

No comments:

Post a Comment