Hujan deras mengguyur Kota Parahyangan tepat sesaat saya tiba di depan kantor salah satu perusahaan swasta elektronik terkemuka Indonesia. Ada janji dengan sang mantan pacar, bersama-sama ke pasar tradisional terdekat untuk membeli ikan segar. Anak saya yang baru 2 (dua) bulan dalam kandungan, perlu asupan gizi natural yang baik bagi perkembangannya.
Sepeda motor saya parkirkan di tempat aman dan sesegera mungkin merapat ke beranda kantor. Satu setengah jam, kurang lebih, kami tertahan di ruang front office, menunggu redanya hujan. Beruntung sempat menikmati suguhan seperangkat audio-video yang sengaja di presentasikan untuk menunjukkan kualitas pelayanan dan produk alat-alat elektroniknya.
Berbekal jaket motor berkualitas, meski basah namun cepat mengering yang dihadiahkan teman, saya dan istri menerobos gerimis. Dalam diam kami kompak, merasakan titik-titik air merupakan harga yang murah untuk dapatkan sumber gizi terbaik. Lima belas menit perjalanan kami lewati dan sampai juga di pasar induk yang telah padat sejak lepas magrib. Aroma dari barang-barang yang dijual, penjual, dan pembeli, menusuk indra dan menyadarkan bahwa kami benar berada di salah satu pasar tradisional Indonesia.
Saya dan istri pulang setelah aktivitas pasar yang berlangsung hampir satu jam, berkeliling, menawar, dan bertransaksi."Pa, pelan-pelan jalannya", istri saya mengingatkan saat kami baru beranjak meninggalkan area parkir pasar. Dengan santai, kami membelah kerumunan jalan untuk keluar dari komplek pasar. Angin yang berhembus dingin di luar komplek pasar mengusir aroma yang hampir menghilangkan bau parfum di pakaian.
Beberapa kendaraan melaju kencang, mengisi kosongnya ruas jalan, menambah kewaspadaan saya. Ada belokan ke kiri, kira-kira dua puluh lima meter ke depan. Saya mengikuti line jalan di tengah karena harus lurus dan memberi jalan untuk pengendara yang akan berbelok ke kiri. Dari sisi kanan kami, seorang pengendara motor, meski memacu motornya dengan kecepatan 50 km/ jam, tiba-tiba berbelok ke kiri. memotong jalur berkendara saya.
Beruntungnya, tanpa kepanikan, saya memperlambat motor dan sejenak mengikuti arah berkendaranya untuk menghindari benturan. Pengendara tersebut dan kami memang baik-baik saja. Berbeda dengan apa yang terjadi di salah satu perhelatan motoGP baru-baru ini. Ada korban yang dirugikan dan ada hukuman bagi yang merugikan. Sepanjang perjalanan pulang, saya dan istri tak berhenti membicarakannya. "Untung kita tidak sama dengan Pedrosa, meskipun orang tadi benar-benar mirip Simoncellli", bergantian kami saling mengingatkan.
No comments:
Post a Comment