Saturday, June 11, 2011

Andaikan di Indonesia hanya ada Hospital, bukan Rumah Sakit

Segelas kopi terhidang di pantry. "Terima kasih, Mas", tidak lupa saya ucapkan pada office boy yang menyeduhnya. Pintu belakang kantor saya buka agar bisa menikmati kopi sambil merokok; manajemen kantor tidak menyediakan smoking room.

"Sudah baca headline pagi ini?", tanya rekan yang baru bergabung di brandgang belakang kantor. Kami terlibat perbincangan seru dan menyenangkan seputar kabar headline di beberapa media massa terkemuka. Dengan tambahan 3 (tiga) orang yang datang, rasanya tidak cukup waktu untuk mencapai klimaks obrolan.

Beruntung hanya ada 2 (dua) kubu yang tercipta, pro dan kontra terhadap para "oknum layak periksa". Akhir-akhir ini, beberapa media massa menghadirkan headline tentang kejadian-kejadian terkait pelanggaran hukum dan oknum-oknum bersangkutan yang kabur keluar negeri.

Kubu pro mempertanyakan fakta hukum, sedangkan yang kontra mempersoalkan tanggung jawab moral dan etika. Yang mendukung berdalih "asas praduga tidak bersalah" dan kubu kontra mengusulkan "pembuktian terbalik". Benar-benar perdebatan yang tak berujung. Untung juga, profesi kami tidak memprioritaskan "full control on time arrangement".

Dengan niat yang tulus agar mulai memperhatikan agenda masing-masing pada hari ini, saya berusaha menengahi. Layaknya detektif, saya menganalisa alasan yang terdengar kasar karena bukan hanya menciderai hukum tetapi juga dunia kesehatan tanah air. "Seandainya di Indonesia hanya ada Hospital, bukannya Rumah Sakit, pasti orang-orang itu tidak kabur keluar negeri", saya mengakhirinya sambil membawa masuk gelas kopi.

No comments:

Post a Comment